Jumat, 18 Juli 2014

Tantrum pada Anak, Inilah Pencegahannya


Tantrum pada Anak
Inilah Pencegahannya

 

            Tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb. Ketika keinginannya tak terpenuhi atau sedang marah, masing-masing anak bisa menunjukkan reaksi berbeda. Ada anak yang berteriak-teriak sambil marah-marah atau justru anak yang mengutarakan jika dirinya sedang marah.
Hal ini mengundang komentar dari psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli M.Psi, dia mengutarakan bahwa kebiasaan anak tantrum atau tak bisa tenang ketika ia kesal dan marah salah satunya dipengaruhi fungsi orang tua yakni asih, memberi kasih sayang pada si kecil. "Anak yang diasuh penuh kasih sayang punya tiga ciri pertama dia punya kemampuan regulasi emosi yang sehat, emosi yang positif," Vera menekankan, empati adalah landasan anak untuk memahami mana sesuatu yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Anak juga bisa menempatkan diri misalnya hormat pada orang yang lebih tua, serta bisa terampil dan tampil secara sosial.
Pada dasarnya, fungsi orang tua hanya tiga yakni asuh dengan memenuhi nutrisinya, asah dengan memberi stimulasi, dan asih yakni memberi kasih sayang pada anak.
Ahli psikologi anak lainnya yang peduli sama sikap tantrum ini salah satunya yaitu Martina Rini S. Tasmin, SPsi sedikit memberikan penjelasan bahwa Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
-         Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
-         Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
-         Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
-         Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
-         Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
-         Sulit dialihkan perhatiannya.
Dia juaga mengutarakan bahwa Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku tantrum, menurut tingkatan usia:
1.       Di bawah usia 3 tahun:
-   Menangis
-   Menggigit
-   Memukul
-   Menendang
-   Menjerit
-   Memekik-mekik
-   Melengkungkan punggung
-   Melempar badan ke lantai
-   Memukul-mukulkan tangan
-   Menahan nafas
-   Membentur-benturkan kepala
-   Melempar-lempar barang
2.       Usia 3 - 4 tahun:
-   Perilaku-perilaku tersebut diatas
-   Menghentak-hentakan kaki
-   Berteriak-teriak
-   Meninju
-   Membanting pintu
-   Mengkritik
-   Merengek
3.       Usia 5 tahun ke atas
-   Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
-   Memaki
-   Menyumpah
-   Memukul kakak/adik atau temannya
-   Mengkritik diri sendiri
-   Memecahkan barang dengan sengaja
-   Mengancam
Dampak dari sikap tantrum pada anak ini sngat berbeda satu sama lain namun secara umum cukup berbahaya jika sudah parah karena bisa sakiti diri sendiri atau orang lain. Terkadang juga merusak sesuatu. Maka dari itu orang tua harus selalu siaga untuk terus memantau perkembangan anaknya baik secara fisik maupun psikis pada anak tersebut, pertanayaaanya apa saja factor penyebab dari sikap tantrum pada anak?, Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu
Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.
2.      Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri
Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
3.      Tidak terpenuhinya kebutuhan
Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah tantrum.
4.      Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum.
5.      Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit
Anak memang butuh namanya perhatian dan kepedulian dari orangtua bagaimanapun keadaan mereka baik sakit ataupun sehat, ini pula yang jadi pemicu anak bisa memeiliki sikap tantrum.
6.      Anak sedang stres
Jika orang tua jarang memperdulikan keadaan anak dan sangat jarang sekali berkomunikasi bahkan menasehati jika anak itu lagi stress atau ada masalah maka jangan salahkan jika anak anda akan memliki sikap tantrum ini.
            Sikap tantrum memang harus dikenali sejak dini pada anak Anda karena jika dibiarkan begthu saja akan member dampak yang negative bagi dirinya sendiri amaupun oranglain, kalaupun anak Anda sudah terkena sikap Tantrum ini maka Langkah pertama untuk mencegah terjadinya tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.
Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.
Langkah kedua dalam mencegah tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?  Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun, ini akan membuat anak semakin dekat dan bisa dikontrol oleh orang tua kapanpun. (Sul/dbs).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar