Tantrum pada Anak
Inilah Pencegahannya

Tantrum adalah ledakan
kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini
bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami
tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu
menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit,
dsb. Ketika keinginannya tak terpenuhi atau sedang marah, masing-masing anak
bisa menunjukkan reaksi berbeda. Ada anak yang berteriak-teriak sambil
marah-marah atau justru anak yang mengutarakan jika dirinya sedang marah.
Hal ini mengundang
komentar dari psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli M.Psi, dia
mengutarakan bahwa kebiasaan anak tantrum atau tak bisa tenang ketika ia kesal
dan marah salah satunya dipengaruhi fungsi orang tua yakni asih, memberi kasih
sayang pada si kecil. "Anak yang diasuh penuh kasih sayang punya tiga ciri
pertama dia punya kemampuan regulasi emosi yang sehat, emosi yang
positif," Vera menekankan, empati adalah landasan anak untuk memahami mana
sesuatu yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Anak juga bisa menempatkan
diri misalnya hormat pada orang yang lebih tua, serta bisa terampil dan tampil
secara sosial.
Pada dasarnya, fungsi
orang tua hanya tiga yakni asuh dengan memenuhi nutrisinya, asah dengan memberi
stimulasi, dan asih yakni memberi kasih sayang pada anak.
Ahli psikologi anak
lainnya yang peduli sama sikap tantrum ini salah satunya yaitu Martina Rini S. Tasmin, SPsi sedikit memberikan penjelasan bahwa Tantrum
biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga
lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan
ciri-ciri sebagai berikut:
-
Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak
teratur.
-
Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
-
Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
-
Moodnya
(suasana hati) lebih sering negatif.
-
Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
-
Sulit dialihkan perhatiannya.
Dia juaga mengutarakan bahwa Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah
beberapa contoh perilaku tantrum, menurut tingkatan usia:
1.
Di bawah usia 3 tahun:
-
Menangis
-
Menggigit
-
Memukul
-
Menendang
-
Menjerit
-
Memekik-mekik
-
Melengkungkan punggung
-
Melempar badan ke lantai
-
Memukul-mukulkan tangan
-
Menahan nafas
-
Membentur-benturkan kepala
-
Melempar-lempar barang
2.
Usia 3 - 4 tahun:
-
Perilaku-perilaku tersebut diatas
-
Menghentak-hentakan kaki
-
Berteriak-teriak
-
Meninju
-
Membanting pintu
-
Mengkritik
-
Merengek
3.
Usia 5 tahun ke atas
-
Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di
atas
-
Memaki
-
Menyumpah
-
Memukul kakak/adik atau temannya
-
Mengkritik diri sendiri
-
Memecahkan barang dengan sengaja
-
Mengancam
Dampak dari sikap tantrum pada anak ini sngat berbeda satu
sama lain namun secara umum cukup berbahaya jika sudah parah karena bisa sakiti
diri sendiri atau orang lain. Terkadang juga merusak sesuatu. Maka dari itu
orang tua harus selalu siaga untuk terus memantau perkembangan anaknya baik
secara fisik maupun psikis pada anak tersebut, pertanayaaanya apa saja factor
penyebab dari sikap tantrum pada anak?, Ada beberapa faktor
yang dapat menyebabkan terjadinya tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Terhalangnya
keinginan anak mendapatkan sesuatu
Setelah tidak berhasil
meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara
tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada
contoh kasus di awal.
2.
Ketidakmampuan
anak mengungkapkan diri
Anak-anak punya
keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak
bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini
dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
3.
Tidak
terpenuhinya kebutuhan
Anak yang aktif membutuh
ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam
waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan
panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak
bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya
adalah tantrum.
4. Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak
yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa
tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu
dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi
bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum. Orangtua yang
mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum. Misalnya,
orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin
mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk
menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan
menjadi tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum.
5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan
sakit
Anak memang butuh namanya perhatian dan kepedulian dari orangtua
bagaimanapun keadaan mereka baik sakit ataupun sehat, ini pula yang jadi pemicu
anak bisa memeiliki sikap tantrum.
6. Anak sedang stres
Jika orang tua jarang memperdulikan keadaan anak dan sangat jarang sekali
berkomunikasi bahkan menasehati jika anak itu lagi stress atau ada masalah maka
jangan salahkan jika anak anda akan memliki sikap tantrum ini.
Sikap tantrum memang harus dikenali
sejak dini pada anak Anda karena jika dibiarkan begthu saja akan member dampak
yang negative bagi dirinya sendiri amaupun oranglain, kalaupun anak Anda sudah
terkena sikap Tantrum ini maka Langkah pertama untuk
mencegah terjadinya tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak,
dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul tantrum
pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang
aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di
perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak tantrum, orangtua perlu
mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan,
untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.
Tantrum juga dapat dipicu
karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal
ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan
membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit,
akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut.
Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada
permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia
mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.
Langkah kedua dalam
mencegah tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh
anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu
melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua
orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi
dalam perkataan dan perbuatan? Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali
melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak,
jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti.
Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan.
Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi
satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak
aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa
orangtuanya selalu sepakat dan rukun, ini akan membuat anak semakin dekat dan bisa
dikontrol oleh orang tua kapanpun. (Sul/dbs).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar