Jumat, 18 Juli 2014

Peran Ortu, Saat Anak Galau


Peran Ortu
Saat Anak Galau

 

            Usia remaja sangatlah  menarik untuk dilalui oleh para remaja baik ketika saat menyenangkan maupun menyedihkan, kalau di umpamakan Masa remaja seperti koin uang yang memiliki 2 sisi, Satu sisi, masa remaja seringkali disebut sebagai 'masa badai' baik buat orang tua ketika menghadapi remajanya, juga bagi remaja sendiri. Kalau bahasa jaman sekarang, masa galau. Kenapa galau? Karena remaja dihadapkan pada perubahan yang drastis, fisik, sosial dan emosi. Sisi lain, masa remaja adalah masa berprestasi. Semangat jiwa mudanya, keberaniannya, keinginannya untuk menunjukkan siapa dirinya.
            Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan oleh seorang anak agar disetiap mereka sedang gembira ataupun terkena masalah mereka mempunyai tempat sandaran ataupun tempat curahan dari semua permasalahan yang mereka alami, Pertanyaanya bagaiamanakah orang tua itu memposisikan diri sebagai orang tua yang sebenarnya?, berikut ini ualasanya:
-         Ketika anak kita usia 0-6 tahun, peran orang tua adalah sebagai GURU
-         Ketika anak usia 7-12 tahun, peran orang tua berubah menjadi ADMINISTRATOR
-         ketika anak berusia 13-20 tahun, peran orang tua adalah sebagai COACH
Banyak anak merasa 'kehilangan' atau 'ditinggalkan' orang tuanya pada saat mereka remaja, ketika anak kita telah remaja kehadiran dan pendampingan kita perlu lebih besar. Mereka membutuhkan kita sebagai coach-nya di tahun-tahun pencarian jati diri mereka. Seringkali orang dewasa mempunyai persepsi bahkan melabel remaja itu melawan, tidak bisa diatur, malas, tidak bertanggung jawab dll.
Ketika melakukan pembicaraan dengan remaja dari hati ke hati, kita akan memahami bahwa mereka ingin dihargai dan didengarkan . Alih-alih label negatif, mereka ingin dilihat positif, creatif, punya rasa ingin tahu yg besar, sebagai pribadi yang berharga.
            Alzena Masykouri M.Psi, psikolog anak dan remaja dari Klinik Tumbuh Kembang Kancil mengatakan mengapa remaja cenderung lebih rentan galau ketika mereka memiliki masalah dalam urusan asmara?. Pada dasarnya, usia remaja dimulai saat seseorang berusia 13-18 tahun. Nah, makin dewasa diharapkan kemampuan kognitif remaja bisa mengimbangi dan membantu mereka dalam mengambil keputusan yang rasional sehingga bisa mengarahkan dirinya dalam aktivitas yang positif. Meski galau rentan dialami remaja, sejak awal orang tua pun bisa melakukan tindakan preventif agar putra putrinya tidak terlalu galau saat mereka putus cinta.
Putus cinta sangatlah menyakitkan. Maka kebanyakan orang putus cinta tidak bisa dipungkiri  mengalami keadaan galau, kegalauannya ini biasanya lebih lama jika dibandingkan dengan orang dewasa, maka Sejak awal orang tua memiliki tugas mendampingi dan menerima kondisi anak, bukan menasihati sehingga bisa menyebabkan remaja makin terpuruk dengan keadaannya, yaitu galau setelah putus cinta," tegas lulusan fakultas psikologi UI ini. Jadi, tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah orang tua berusaha menjadi teman terpercaya bagi anaknya dan langkah ini harus dimulai dari usia dini. Caranya beragam sekali, berikut ini kupasannya:
-         membiasakan bertanya pada anak bagaimana keseharian mereka,
-         mengetahui apa yang dialami anak,
-         mengenali bagaimana pergaulan mereka.
Dengan terbiasa bercerita dengan orang tua sejak kecil, ketika remaja dan mulai tertarik dengan lawan jenispun mereka bisa berbagi dengan orang tuanya. Sehingga, saat timbul galau, orang tua bisa membantu agar anak tak galau berlarut-larut.
            Ini merupakan bentuk perhatian dan kasihsayang dari orang tua terhadap anak jangan sampai ketika anak sedang mengalami sebuah masalah mereka jatuh pada perangkat orang yang tidak bertanggung jawab. (Sul/dbs).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar